ALUMNI Nadya Fathia Malik Tidak Semua Wanita itu Lemah Cover

ALUMNI Nadya Fathia Malik Tidak Semua Wanita itu Lemah


Wanita yang biasa disapa Nadya ini merupakan lulusan Akademi Televisi Indonesia tahun 2012. Anak terakhir dari 3 bersaudara yang semuanya laki-laki ini,  memutuskan berkarir di dunia broadcasting sebagai penata kamera. Jarangnya wanita yang berprofesi di bidang tersebut, menjadikan Nadya Fathia disorot, pasalnya penata kamera merupakan profesi yang identik dengan kaum lelaki. Namun dengan penuh percaya diri Nadya Fathia membuktikan bahwa dirinya cukup andal dalam menjalankan profesinya.

Awal karirnya di dunia broadcasting diawali saat dirinya menjalankan Praktik Kerja Lapangan. Saat itu Nadya masih duduk di semester 5 Akademi Televisi Indonesia. Dengan pengalaman magangnya sebagai penata kamera freelance di Next Media milik Grup Emtek, membuat peluang kerja bagi wanita kelahiran Jakarta ini terbuka luas. Pengalamannya selama dua tahun bekerja sebagai kamerawati yang meliput acara sepak bola, serta pernah menjadi Produser (PD) sebuah acara sepak bola menjadikan Nadya Fathia merasa bahwa pekerjaannya dalam bidang tata kamera adalah dunianya.

ALUMNI Nadya Fathia Malik Tidak Semua Wanita itu Lemah 1

Setelah lulus dari Akademi Televisi Indonesia dan memiliki pengalaman yang cukup selama dua tahun di Next Media, membuat Nadya Fathia Malik memberanikan diri mendaftar sebagai penata kamera di Indosiar, padahal saat itu tidak dibuka lowongan penata kamera wanita dan Indosiar, sebab stasiun televisi tersebut memang belum memiliki penata kamera seorang wanita. Namun dengan pengalamannya selama dua tahun menjadikan Nadya Fathia diterima, malahan ia tidak hanya bekerja untuk stasiun TV Indosiar, namun juga bekerja untuk stasiun TV milik Emtek lain, yaitu SCTV.

Bercerita tentang pengalamannya menjadi Mahasiswa ATVI membuat Nadya Fathia Malik tersenyum lebar, ia mengatakan bahwa ATVI merupakan Sekolah Broadcast yang sangat bagus, tidak perlu terlalu banyak dicekoki materi karena Anak Broadcast seharusnya banyak mendapatkan Praktik Lapangan dan ATVI memenuhi standar itu. Selain itu, Nadya juga berpesan kepada seluruh Mahasiswa Aktiv ATVI bahwa “Fokuslah untuk kuliah sampai lulus. Jangan sampai kelulusan tertunda karena terlena mencari uang pada saat masih kuliah. Karena cita-cita seharusnya diperjuangkan sekeras mungkin. Yang penting lulus dulu, karena rejeki masing-masing orang sudah ada yang mengatur.” ujarnya, berpesan kepada seluruh Mahasiswa ATVI berdasarkan pengalamannya selama menempuh pendidikan di ATVI.

ALUMNI Nadya Fathia Malik Tidak Semua Wanita itu Lemah 2

Ketika ditanya suka dan duka selama menjalani profesinya, Nadya mengatakan bahwa awal dirinya memegang sebuah kamera yang tidak ringan itu cukup membuat bagian punggungnya sakit. Namun setelah terbiasa, hal itu tidaklah menjadi permasalahan lagi. Nadya juga mengatakan bahwa selama ia menjadi penata kamera ia tidak hanya bekerja namun juga merasa terhibur. Karena dirinya selalu meliput acara-acara hiburan seperti Inbox (SCTV), Mamah & AA (Indosiar), Dangdut Academy (Indosiar), Stand Up Comedy Academy (Indosiar), dan masih banyak program lain yang ditanganinya.

Dunia Broadcast memang dituntut untuk bisa saling bekerja sama antar semua anggota tim. Dengan itu, Nadya yang notabene nya seorang wanita sama sekali tidak merasa terbebani dengan hal itu, padahal kebnayakan anggota dalam timnya adalah lelaki. Dengan sedikit bercanda, Nadya menambahkan bahwa justru ia merasa terlindungi ketika bekerja bersama banyak laki-laki.

Nadya juga bercerita, dulunya ia hendak melanjutkan kuliah di bidang Ekonomi, namun dengan pertimbangan bahwa ia adalah orang yang tidak bisa duduk diam di tempat kerja, membuat ibunya menyarankan untuk mengambil Broadcasting dan kuliah di ATVI. Tanpa adanya pertimbangan yang lebih lanjut, Nadya memutuskan menerima saran dari ibunya.

Seiring berjalannya waktu, Nadya sama sekali tidak menyesali keputusannya untuk menerima saran itu dan semua keluarganya mendukung karirnya. Dibilang anak terakhir yang memiliki banyak kakak laki-laki di sampingnya tidak membuat Nadya menjadi manja dan bergantung kepada orang lain. Ia justru terpacu menjadi lebih mandiri dan membuktikan kepada seluruh anggota keluarganya bahwa ia bisa dibanggakan dan patut diberi support atas semua usahanya.

Bisa dibilang bahwa restu orang tua adalah nomor satu dalam kehidupan anaknya. Tanpa adanya restu orang tua yang mengiringi langkah anaknya, tidaklah mungkin mencapai kesuksesan dengan mudah. Nadya membuktikan hal itu, ia tidaklah menginginkan hal-hal yang di luar batas ekspektasinya, ia hanya melakukan hal yang ia sukai. Mengambil angle-angle gambar dari balik layar kameranya. Walau pernah berdiri di atas mobil pemadam kebakaran setinggi hampir 4 meter untuk mendapatkan momen, ia tidaklah merasa lelah dengan pekerjaannya, karena ia menikmatinya, menikmati pekerjaannya yang jarang dilakukan oleh kaum wanita. Yaitu, menjadi seorang Penata kamera wanita.

 

Oleh : Sri Ayuningsih & Suci Sekar Ayu