FGD

Forum Diskusi Group Konsentrasi Jurnalisme TV


Meraih impian menjadi jurnalis televisi, sekarang bukan sesuatu yang mustahil di kampus Akademi Televisi Indonesia (ATVI) yang membuka konsentrasi studi jurnalisme televisi tahun depan, sebagai pengembangan disiplin ilmu Komunikasi Massa selain Produksi Televisi. Keseriusan membuka konsentrasi tentunya memikirkan kurikulum yang bisa menghasilkan jurnalis televisi yang ideal dan handal dengan melihat kebutuhan jurnalis televisi yang ada saat ini dan masa depan. Kajian itu dilakukan ATVI dalam bentuk Forum Group Disccusion (FGD) yang melibatkan pakar komunikasi massa, akademisi, pengamat jurnalistik pertelevisian, dosen dan pelaku industri. Seluruh peserta FGD menyambut baik Kampus ATVI membuka konsentrasi Jurnalisme Televisi,  dan sepakat profesi ini belum dijalani dengan baik di lapangan.  Seperti yang diungkap oleh Pemimpin Redaksi Media Indonesia, Usman Kamsong kebutuhan jurnalis televisi saat ini masih besar dan 98 % penduduk Indonesia masih menonton televisi Dan permasalahanya yang dihadapi Metro TV sebagai televisi pemberitaan nasional, persoalan klasik yang dihadapi pada jurnalis muda selama perekrutan jurnalis untuk Metro TV yaitu, ketidak adaan passion, tidak trampil dan dan tidak memiliki soft skill. “Banyak jurnalis yang bekerja di televisi hanya membayangkan televisi sebagai dunia glamour dan minimnya kemampuan soft skill seperti berkomunikasi, berempati, dan kerelaan mendengarkan orang lain,” ungkap Usman Kamsong. Sedangkan menurut videografer dan video jurnalis yang pernah bekerja untuk CNN, German G. Mintrapradja, menyatakan cukup prihatin dengan visual yang ada di pemberitaan televisi nasional saat ini, bukan menunjukan hal yang faktual tetapi sudah memasukian unsur drama atau unsur fiksi dalam visualnya seperti adanya adegan slow motion. German berharap ATVI bisa menghasilan jurnalis televisi yang tidak hanya meniru, namun berani tampil beda, dan jurnalis mampu bicara melalui gambar. Sedangkan menurut produser Patroli Malam, Windu Tiastuti, yang berpengalaman di lapangan sebagai jurnalis televisi selama 13 tahun mengatakan, masih banyak jurnalis televisi yang ia temukan di lapangan tidak melakukan punya etika dalam meliput, sering beropini, memanipulasi gambar dan tidak memiliki data yang akurat ketika liputan di lapangan. Dengan melihat keadaan yang masih jauh dari kata ideal, disayangkan oleh mantan Dekan Fisipol UGM, Hermin Indah Wahyuni, dimana saat ini Indonesia sudah memasuki abad termediasi, sehingga media semakin menjadi sentral kehidupan masyrakat modern, “praktik jurnalisme yang profesional menjadi kunci dalam mengembangkan masyarakat,” tegasnya Para akademisi maupun pakar komunikasi massa dan praktisi dalam FGD ini sepakat memberikan masukan agar ATVI dalam kurikulum konsentrasi jurnalisme televisinya memantapkan ilmu dan ideologi jurnalisme dan jurnalistik, dan tidak hanya soal praktis sebahagai jurnalis televisi saja, sehingga di harapkan ATVI bisa menghasilkan jurnalis televisi yang ideal dan siap pakai dan siap bersaing. (sTg)