Gedung ATVI crop

PENDIDIKAN VOKASIONAL “ATVI”


Akademi Televisi Indonesia (ATVI) sebagai salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dari 333 PTS yang berada di lingkungan Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah III DKI Jakarta, merupakan satu-satunya  PTS yang secara langsung dibina oleh perusahaan televisi swasta Indosiar. Hampir dikatakan tidak ada PTS yang menyelenggarakan program studi sejenis dengan ATVI dibina langsung oleh perusahaan televisi nasional, diseluruh Indonesia.

Pada awalnya ATVI bernama ATKI (Akademi Teknologi dan Komunikasi Indonesia) yang berdiri pada tahun 1998, melalui proses yang panjang, akhirnya mendapat ijin penyelenggaraan dari Pemerintah (d/h DepartemenPendidikan dan Kebudayaan). Saat itu, ATKI merupakan satu-satunya akademi di Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan vokasional di bidang pertelevisian. Memasuki era tahun 2000an, program studi pertelevisian dibuka oleh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan PTS. Dengan kata lain ATVI merupakan cikal bakal dan pioneer berdirinya program studi pertelevisian di Indonesia.

Berpegang pada komitmen yang tinggi dan kesungguhan untuk mendidik pemuda-pemudi Indonesia di bidang pertelevisian. ATVI didirikan untuk  memenuhi kebutuhan masyarakat akan tenaga kerja bidang TV di Indonesia.  Berdasarkan hasil tracer study (penelusuran data alumni) yang tertuang dalam borang isian Badan Akreditasi Nasional dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir terhitung mulai tahun 2009 sampai dengan 2013 dan perkiraan sampai akhir tahun 2015 mahasiswa ATVI sebagian besar telah terserap di stasiun TV Nasional dan Lokal, Production House, Manajemen Artis  dll, dengan tidak menutup kemungkinan para alumni ada yang meneruskan ke jenjang strata satu (S.1) atau bekerja di luar kompetensi yang dimiliki sebagai Ahli Madya Pertelevisian.

Berdasarkan kebutuhan dan daya serap yang cukup tinggi akan pentingnya keberadaan tenaga braodcasting yang handal, maka ATVI senantiasa terus mengembangkan kompetensi bagi para lulusannya, melalui pendidikan mental, manual skills, values, dan attitudes. Oleh karena itu, di dalam pendidikan vokasi secara implisit terkandung unsur-unsur berpikir (cognitive), berbuat (psychomotor), dan rasa (affective) dalam proporsi yang berbeda mengikuti kebutuhan kompetensi pada jenis dan jenjang pekerjaan yang terkait, sehingga paradigma pendidikan di ATVI tidak ditujukan kepada supply minded (orientasi jumlah), tetapi lebih ditekankan pada demand minded (kebutuhan) ke dunia kerja. Sebab itu, ATVI terus menggali, kompetensi apa saja yang dibutuhkan pasar kerja ke depan, melalui workshop yang setiap akhir tahun diselenggarakan untuk meninjau bobot dan kedalaman mata setiap matakuliah yang diampu mahasiswanya.

Dengan demikian ATVI, sebagai penyelenggara pendidikan keterampilan atau yang disebut pula sebagai pendidikan vokasional, saat ini diyakini mampu menjadi solusi dalam mengatasi kekurangan tenaga hadal di bidang pertelevisian. Hal itu disebabkan, konsep pendidikannya lebih mengandalkan skill atau keterampilan dan bertujuan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas, trampil, memiliki disiplin tinggi, dan berjiwa kewirausahawan.

Untuk menghasilkan kulitas pendidikan seperti itu, ATVI tidak hanya sebatas mengejar hasil. Tapi lebih menititikberatkan menjadi target yang berguna dari hasil pendidikan itu sendiri, dimana salah satu caranya adalah melalui pendidikan yang membekali peserta didik dengan kemampuan yang lebih besar porsi prakteknya ketimbang teori. ATVI tidak saja hanya membekali pengetahuan teori untuk bersaing dalam pasar kerja, namun lulusannya akan memiliki kompetensi vokasi yang berguna untuk menopang kecakapan spesialisasi keahliannya.

Berdasarkan strategi pembelajaran tersebut, lantas apa yang menjadi keuntungan mahasiswa yang sekarang sedang menyelesaikan pendidikan di bidang voasional? Telah disebutkan, selain konsep pendidikan yang lebih menitikberatkan pada keterampilan (skill), dirancang dengan kurikulum yang mengasah keterampilan, disiplin, dan konsep pesertanya tentang pekerjaan dan kewirausahaan. Keuntungan lain, yaitu alternatif pembiayaan dan jangka waktu pendidikan yang relatif lebih pendek, jika dibandingkan kuliah di Strata 1. Lulusannya diarahkan untuk mengisi lowongan pekerjaan di berbagai bidang usaha, tingkatan  menengah (level admisnistrasi, staf, atau supervisor), yang pada kenyataannya memiliki jumlah lebih besar/kemungkinan lapangan pekerjaan yang lebih banyak, ketimbang level atas yaitu posisi para Manajer, dan Dewan Direksi.

Dalam situasi sekarang ini, biaya pendidikan yang bertambah besar (berkali-kali lipat) memang menjadi masalah utama bagi para orangtua yang ingin menyekolahkan anaknya ke Perguruan Tinggi. Belum lagi ketika mereka lulus nanti, tidak ada jaminan untuk anaknya bisa langsung bekerja, karena misalnya, kompetensi yang dimiliki si anak dianggap belum memadai, perlu untuk dilatih lagi. Atau, terkadang masih memerlukan pendidikan khusus dari asosiasi profesi yang bersangkutan, untuk menjalankan pekerjaan tertentu sebelum ia dapat bekerja.

Dengan demikian, perbedaan utama antara pendidikan akademik dan vokasional terletak dalam keahlian yang dicapai lulusannya. Lulusan pendidikan akademik lebih berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan secara teori, sedangkan lulusan pendidikan vokasional lebih pada penguasaan praktek dari ilmu pengetahuan yang bersangkutan.

Oleh karena itu, program pendidikan vokasional,  diharapkan dapat menjembatani dunia pendidikan tinggi dengan dunia kerja dan kebutuhan pasar. Lulusannya harus siap pakai. Kualifikasi lulusan pendidikan vokasi dapat diperhitungkan di pasaran, bahkan untuk jenis pekerjaan tertentu (pertelevisian, misalnya) lulusan pendidikan vokasi bisa bersaing dengan lulusan dari S.1, dan diterima. Pendapat bahwa gelar akademik sarjana dipandang lebih berharga dibandingkan gelar Ahli Madya, sudah mengakar dalam budaya masyarakat. Ini sudah saatnya untuk diubah.***

 

Oleh : Imam Yuwono